|
|
|
Gerbang
|
| |
PANEN RAYA [LAGI] DI RUMAH DUNIA [Dari Taman Budaya Rumah Dunia hingga Riwayat Block Grant] Oleh Gol A Gong
Ketika Rumah Dunia menggelinding terus bagai bola salju, pada 2008 – 2009, saya mencoba peruntungan dengan menggalang dana di akun facebook saya; Gol A Gong. Ada tanah hampir seluas 1000 m2 di depan Rumah Dunia... 01 September 2010 - 03:38 |
Arsip...  |
|
|
|
|
|
Balada Si Roy |
19 Januari 2005 - 17:52 (Diposting oleh: Gola Gong)
[Di balik Layar 3] MAKNA FILOSOFI GOLA GONG (0 Komentar) Oleh Gola Gong
Saya pulang ke Serang. Saya ceritakan semuanya pada Bapak dan Emak serta saudara. Saya merasa optimis, tapi Bapak mengingatkan, jangan terlalu banyak berharap, karena kalau tidak kesampaian bisa kecewa. Bapak malah menyarankan agar saya meneruskan kuliah lagi. “Kalau perlu kuliah di Serang...
|
|
19 Januari 2005 - 17:09 (Diposting oleh: Firman Venayaksa)
[Essay Roy 4] ROY, SEBUAH RANAH TEMPAT BERTANYA (0 Komentar) Oleh Heru Hikayat *
Aku terdiri dari banyak kisah. Maka aku bercerita pada kalian,para lelaki pencinta kehidupan. Lihatlah jalan putih di depanmu.Periksa sepatumu; kotor berdebukah? Atau kau merasa suci?Putuskan dengan hati, pikiran, keberanian, dan senyummu.Kau harus teguh saat melangkah. Kau adalah gunung...
|
|
19 Januari 2005 - 16:43 (Diposting oleh: Firman Venayaksa)
[Essay Roy 3] ROY, AJARI AKU! (0 Komentar) Catatan ringan Oleh Endang Rukmana*)
Tadinya kisah ini tidak akan aku tulis. Jangankan untuk mengulanginya, mengenangnya pun aku takut. Tapi akhirnya dengan pertimbangan dan kemungkinan, ternyata sesuatu yang sia-sia itu masih bisa ada harganya. Ini tidak lain agar orang-orang yang mencintai kehidupan bisa...
|
|
19 Januari 2005 - 14:14 (Diposting oleh: Firman Venayaksa)
[Essay Roy 2] SI ROY; SANG OEDYPHUS COMPLEX (0 Komentar) Oleh Firman Venayaksa*)
Perubahan fisik remaja, sering mengakibatkan dirinya tidak mempunyai kepercayaan diri (self confidence). Mereka kadang membanding-bandingkan antara dirinya dengan sosok perfeksionis dan akan
berusaha sekuat tenaga untuk mencoba meniru sosok ideal tersebut. Dalam memilah buku bacaan,...
|
|
19 Januari 2005 - 12:49 (Diposting oleh: Gola Gong)
[Essay Roy 1]: "BALADA SI ROY" SIMBOL PEMBEBASAN REMAJA (0 Komentar) Oleh Firman Venayaksa *)
Dalam dunia karya sastra, "sastra popular" dan "sastra serius" selalu menjadi bahan perbincangan, yang ujung-ujungnya mentasbihkan
bahwa "sastra serius" secara estetika dan nilai mempunyai maqam yang lebih tinggi dibandingkan dengan "sastra popular." Tentu saja pendapat seperti ini...
|
|
19 Januari 2005 - 12:39 (Diposting oleh: Gola Gong)
[Apa Kata Mereka 1]: MELAKUKAN PERJALANAN (0 Komentar) [Email Bhongy, pembaca “Balada Si Roy})
Saya sangat suka dengan tulisan Bapak. Apalagi serial Balada Si Roy. Bapak sadar ada tidak bahwa kadang tulisan Bapak bisa begitu berpengaruh pada seseorang.
Pertama kali saya mengadakan perjalanan sendiri pada waktu saya kelas empat SD waktu itu kakek saya sakit di...
|
|
19 Januari 2005 - 08:46 (Diposting oleh: Gola Gong)
[Di balik Layar 2] TANGAN PALSU MENAKLUKAN JAKARTA (0 Komentar) Oleh Gola Gong
Saya memutuskan jadi penulis sebetulnya karena perlakuan diskriminasi pemerintah waktu itu. Tangan kiri saya diamputasi sebatas sikut pada tahun 1971, karena terjatuh dari pohon (cerita tentang ini ada di calon buku saya "BORN: Langkah Itu Sudah Dimulai", yang sejak Desember 2004...
|
|
19 Januari 2005 - 08:03 (Diposting oleh: Gola Gong)
[Di balik Layar 1] AWAL MULA BALADA SI ROY (4 Komentar) Oleh Gola Gong
Sekitar Oktober tahun 1987, saya baru pulang dari travelling Indonesia. Dari Tenggarong, ketika hendak menyusuri sungai Kayahan, Samarinda, saya mendapat kabar Emak sakit. Saya harus pulang. Saya sebetulnya sedang berniat menyusuri sungai Kahayan, jadi suku Dayak, hal yang pernah dilakukan oleh...
|
| | |
 | | 1 [ 2 ] 23 Balada Si Roy |  |

Supported
by Intervisi didukung oleh
RumahSehat.com |
|